Menyambut Mahasiswa Baru Teknik Kimia UNPAR Angkatan 2021: Tantangan Berkuliah dan Berorganisasi Secara Daring

Pada Rabu (8/9/2021) hingga Kamis (10/9/2021), Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) mengadakan Inisiasi dan Adaptasi (SIAP). SIAP merupakan serangkaian kegiatan awal bagi para mahasiswa baru agar mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan perguruan tinggi, mengikuti proses pembelajaran dengan baik, dan menyelesaikan studi tepat waktu.

Di tahun ajaran baru ini, sangat disayangkan kuliah masih harus dilaksanakan secara daring mengingat kondisi pandemi COVID-19 yang tak kunjung usai. Kekecewaan ini juga dirasakan oleh Kayleen Jessica, mahasiswa Teknik Kimia (TK) UNPAR angkatan 2020 yang sejak awal menjalani perkuliahan daring. Ia merasa lebih sulit untuk berkenalan dengan orang sehingga pada awal perkuliahan cukup merasa sendirian. Seiring berjalannya waktu, Kayleen mencoba untuk menjadi lebih aktif mengikuti lomba dan kepanitiaan. Perlahan Ia mendapatkan kesempatan untuk berkenalan dengan teman lainnya. Kayleen merasa beruntung karena teman-temannya cukup terbuka sehingga tidak memakan waktu yang lama untuk bisa beradaptasi.

Sama seperti mahasiswa lainnya, Kayleen mengungkapkan kesedihannya karena belum bisa bertemu dengan teman-teman terutama setelah mendengar berbagai cerita kuliah luring dari para kakak tingkat, apalagi belum pernah mencoba praktikum luring. Kendati demikian, UNPAR sendiri tetap memberikan praktikum secara daring melalui bimbingan para asisten laboratorium dan dosen pengajar sehingga dapat memahami alat-alat serta langkah-langkah praktikum sesuai keadaan sebenarnya ketika luring. Mengingat kondisi pandemi yang belum dapat mendukung terwujudnya kuliah luring, lama kelamaan Kayleen terbiasa untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Kuliah Daring

“Kuliah secara daring menurutku cukup menantang karena terdapat beberapa keterbatasan terutama dalam hal berdiskusi dan komunikasi yang sekarang kurang melibatkan gestur tubuh yang dirasa cukup esensial dalam berkomunikasi. Lalu banyaknya distraksi juga dapat menghilangkan fokus dalam kelas,” tutur Kayleen.

Kayleen memiliki cara tersendiri untuk mengatasi hilang fokusnya, “Aku coba sebisa mungkin untuk menyingkirkan distraksi seperti handphone. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa aku masih sering gagal fokus, sehingga biasanya aku mengejar ketertinggalan bahan dengan membaca ulang materi dari buku maupun dari video tambahan di Youtube.” Tugas-tugas yang diberikan oleh dosen juga cukup memadai untuk merevisi ulang bahan perkuliahan, namun menurutnya yang paling membantu dan efektif selama ini adalah sesi belajar dan berdiskusi bersama teman-teman.

Perihal bersosialisasi, Kayleen merasa tugas kelompok Mata Kuliah Umum (MKU), keikutsertaan lomba dan kepanitiaan/organisasi memberikannya kesempatan terbesar untuk bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru bahkan yang di luar jurusan dan angkatan sendiri. Biasanya Kayleen dan teman-temannya keep in touch melalui chat atau video call untuk mengobrol, baik untuk mengerjakan tugas, belajar bersama, bermain games, dan nonton bersama secara daring.

Masih terdapat beberapa aspek dari kuliah daring yang dapat diperbaiki, terutama dalam hal penyebaran informasi yang masih sering terlewatkan atau kurang terdistribusi dengan merata dan hal teknis lainnya. Tetapi menurut Kayleen media dan sarana yang disediakan oleh UNPAR sekarang cukup memadai untuk mendukung perkuliahan daring.

Organisasi

Selain akademik, kuliah juga berkaitan dengan kegiatan non-akademik. Salah satunya organisasi kemahasiswaan. Tentu berorganisasi saat daring banyak yang berbeda dengan berorganisasi saat luring. Audrey Budiawan, Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknik Kimia (HMPSTK) UNPAR 2021 juga merasakan hal tersebut. Contohnya bonding dan komunikasi. Kedua hal ini yang paling fundamental di mana biasanya sangat terbantu ketika keadaan luring, sekarang menjadi suatu tantangan tersendiri. Tetapi dibalik semua itu, semakin banyak hal yang dapat dieksplor serta memaksa HMPSTK untuk beradaptasi dan belajar keluar dari zona nyaman.

Selama masa pandemi sudah ada beberapa program kerja milik HMPSTK yang berjalan yaitu Pelepasan Wisuda, Workshop Teknik Kimia, Kuliah Tamu, Chemical Engineering Learning Centre (CELC), dan yang baru saja dilaksanakan adalah Webinar CHEF (Chemical Engineering’s Festival) di bulan Agustus. Meskipun diadakan secara daring, HMPSTK berusaha untuk tidak mengurangi esensi, nilai, dan tujuan dari program kerja itu sendiri. Di awal periodenya, HMPSTK 2021 membuat rapat kerja bersama seluruh mahasiswa aktif TK UNPAR untuk menjaring aspirasi dan menentukan apakah program kerja masih relevan dengan kebutuhan dari mahasiswa serta membahas segi bentukan acara mengingat kondisi perkuliahan dan organisasi yang diselenggarakan secara daring. Aspirasi yang sudah terkumpul menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk menentukan bentuk acara yang akan diadakan sehingga nilai dan esensinya tetap bisa tersampaikan meski dengan kondisi daring.

Kuliah dan Organisasi

Sebagai ketua himpunan, Audrey tentunya memiliki jadwal yang sangat padat. Belum lagi memikirkan terkait akademik. Trik Audrey untuk mengatasi hal ini adalah membuat timetable per bulan yang akan diupdate per minggu dengan menyertakan nama acara/tugas, deadline/waktu pertemuan, link/tempat sehingga semuanya jelas dan tertata. “Usahakan langsung menyelesaikan apa yang ada di depan mata sehingga deadline dan tugas tidak berantakan. Selain itu, tahu prioritas pekerjaan,” tutur Audrey. Peran teman-teman seangkatan untuk saling mengingatkan bagi Audrey sangat membantu untuk tetap catch up di perkuliahan dan organisasi.

Ada banyak hal yang tidak bisa didapat jika hanya aktif secara akademik. Contohnya, bernegosiasi dengan pihak eksternal, public speaking, time management, cara bersikap dengan rekan kerja organisasi, cara profesional dan bersikap objektif saat berproses bersama di organisasi, cara bekerja di bawah tekanan, dan membagi prioritas. Selain itu, dengan organisasi, Audrey belajar untuk lebih memahami cara berhadapan, berdinamika dengan sifat orang yang berbeda-beda, dan menambah koneksi juga tentunya.

Lain halnya dengan Audrey, Kayleen sendiri masih belajar untuk menyeimbangkan antara kegiatan akademik dan non akademik. Berdasarkan pengalamannya, Ia menyarankan untuk bisa mengenali kapasitas diri sebelum memutuskan untuk ikut organisasi. Tidak baik untuk mengikuti kegiatan karena fear of missing out (FOMO) yang berimbas pada hasil kerja yang kurang maksimal baik secara akademik maupun non akademik. “Kesempatan dan kegiatan yang disediakan UNPAR masih banyak so take your time to prepare!” tuturnya.

Mengingat bahwa kini sedang belajar dari rumah, Kayleen rasa sangat penting untuk bisa menegaskan kembali batasan-batasan waktu antara kuliah, kerja dan istirahat yang kian semakin buram karena semua dikerjakan dari kenyamanan rumah. “Selain fokus belajar, jangan lupa untuk banyak istirahat agar tidak jenuh dan spend as much time with your family while you still have the chance, karena mereka merupakan your number one supporter. Kelilingi diri dengan teman-teman yang suportif, positif dan, bisa membantu kita tumbuh lebih baik, karena when things are tough and you feel like giving up, they’re the ones who’ll remind you of your purpose and are the ones who’ll walk the miles with together with you!” tutur salah satu peraih IPK terbaik ini.

Dr. Jenny Novianti M. Soetedjo, ST, M.Sc. selaku Kepala Program Studi TK UNPAR berharap, “Semoga angkatan 2021 feel like home. Walaupun bertemu secara virtual, tetap work hard play hard yang artinya secara akademik ok tapi juga bisa enjoy selama prosesnya, karena kesuksesan itu bukan hanya akademik tetapi juga perlu softskill yang bisa diasah melalui kegiatan non-akademik yang difasilitasi melalui HMPSTK.” (JNS, ed: ARA)