Mengupas Isu Keamanan dan Keberlanjutan Kemasan: Kuliah Umum Bersama Nestlé

Penulis: Jessie Franselina, Liang | Editor: Kumalasari Dewi Wijaya, Yohanes Andre Situmorang

Pada Senin, 10 November 2025, diselenggarakan Special Guest Lecture and Talkshow bertajuk Packaging Safety, Compliance, and Sustainability di Ruang Audiovisual PPAG 45.01.0001, Universitas Katolik Parahyangan. Acara ini menghadirkan dua narasumber dari Nestlé, yaitu Mohamed Batran dari Nestlé MENA dan Stefani Yessi dari Nestlé Indonesia,
yang juga merupakan alumni Teknik Kimia UNPAR angkatan 2005. Acara ini dihadiri oleh mahasiswa/i dari berbagai angkatan yang antusias mengikuti pemaparan para narasumber. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 13.00 WIB ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat langsung bagaimana industri global menghadapi tantangan keberlanjutan (sustainability), keamanan pangan, dan desain kemasan yang bertanggung jawab.

Mengupas Konsep Daur Ulang & Tantangan Industri

Bapak Mohamed Batran memberikan pemaparan mendalam mengenai teknologi pengemasan serta berbagai pendekatan keberlanjutan yang diterapkan perusahaan global seperti Nestlé. Beliau menekankan pentingnya desain kemasan yang aman, dapat didaur ulang, dan memiliki dampak lingkungan yang minimal. Salah satu topik utama yang dibahas adalah mekanisme daur ulang plastik. Bapak Batran menjelaskan perbedaan antara mechanical recycling dan chemical recycling. Mechanical recycling, jelasnya, tidak memecah polimer hingga tingkat molekul, melainkan memproses ulang material dalam bentuk polimer yang sama melalui serangkaian tahap seperti pembersihan, pencucian, penghancuran, pemisahan densitas, hingga pelelehan kembali. Sementara itu, chemical recycling melibatkan reaksi kimia untuk mendepolimerisasi plastik menjadi monomer, yang kemudian dapat dipolimerisasi ulang menjadi plastik baru.

Beliau juga menggambarkan secara rinci proses yang terjadi dalam fasilitas mechanical recycling, mulai dari proses de-labeling, pemisahan logam, beberapa tahap pencucian termasuk hot wash, hingga shredding dan float–sink separation yang
menghasilkan PET flakes sebagai produk akhir. Penjelasan teknis ini membuka wawasan mahasiswa bahwa menghasilkan plastik daur ulang berkualitas tinggi membutuhkan serangkaian tahapan kompleks dan presisi tinggi.

Lebih lanjut, Bapak Batran membahas tantangan struktur kemasan, khususnya perbedaan antara mono-material dan composite structure. Kemasan berbahan mono-structure seperti PP atau PET lebih mudah diproses dan lebih ramah daur ulang, sedangkan composite structure yang menggabungkan berbagai lapisan, misalnya plastik dengan aluminium, jauh
lebih sulit ditangani karena lapisannya tidak dapat dipisahkan. Industri pangan, menurutnya, kini berupaya merancang struktur kemasan yang lebih sederhana namun tetap mampu memberikan proteksi optimal terhadap produk.

Aspek lain yang menarik adalah pembahasan mengenai konsep functional barrier, yaitu lapisan pelindung yang berfungsi mencegah migrasi kimia dari tinta, adhesif, atau lapisan luar menuju produk pangan. Bapak Batran menekankan bahwa functional barrier berbeda dengan barrier untuk oksigen atau uap air yang biasanya dibahas dalam konteks shelf life. Functional barrier dinilai jauh lebih kritis karena berkaitan langsung dengan keamanan pangan.

Selain aspek teknis, Bapak Batran juga menyoroti isu kebijakan lingkungan melalui konsep Extended Producer Responsibility (EPR). Dalam skema EPR, produsen memiliki tanggung jawab penuh atas seluruh siklus hidup produk dan kemasannya. Jika kemasan sulit didaur ulang atau menggunakan material yang berat, produsen akan dikenai biaya lebih tinggi oleh pemerintah, sehingga mendorong perusahaan untuk merancang kemasan yang lebih ringan, mudah didaur ulang, dan aman.

Pada sesi tanya jawab, peserta mengangkat isu mengenai transparansi keamanan kemasan serta bagaimana brand dapat meyakinkan masyarakat bahwa kemasan baru tetap aman. Menanggapi hal ini, Bapak Batran menegaskan bahwa perubahan besar dalam industri harus disertai komunikasi yang konsisten. Kampanye bersama antara perusahaan dan pemerintah diperlukan untuk meningkatkan edukasi publik, sementara keamanan produk harus selalu didukung oleh regulasi, sertifikasi, serta data ilmiah yang kredibel, bukan sekadar klaim.

Kuliah umum ini memperlihatkan bahwa isu pengemasan tidak lagi hanya soal estetika atau kepraktisan, tetapi menyangkut keamanan pangan perubahan iklim, kebijakan publik, inovasi material, dan tanggung jawab produsen. Melalui kuliah ini, diharapkan mahasiswa semakin memahami kompleksitas dunia industri dan siap menjadi bagian dari solusi keberlanjutan di masa depan.