Kuliah Tamu BKK PII di Universitas Katolik Parahyangan: Menakar Masa Depan Industri Kimia Hijau Indonesia

Penulis: Kumalasari Dewi Wijaya | Editor: Yohanes Andre Situmorang

Pada Bandung, 11 November 2025 sebanyak 120 mahasiswa/i mengikuti kuliah tamu yang diselenggarakan oleh Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKK PII) di Universitas Katolik Parahyangan. Peserta kegiatan merupakan gabungan dari berbagai institusi dan angkatan: 2 mahasiswa Teknik Mekatronika, 9 mahasiswa dari ITENAS, serta
sisanya adalah mahasiswa Teknik Kimia UNPAR angkatan 2022–2025. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Dr. Ir. Sripeni Inten Cahyani, M.M., IPM.,ASEAN Eng., ERMCP, CREL, selaku Ketua BKK PII dan Ir. Arief Koeswanto, S.T., M.Sc.Eng., APEC Eng., ACPE selaku Sekretaris BKK PII. Dengan mengangkat tema “Perkembangan dan Masa Depan Industri Kimia Hijau yang Berkelanjutan di Indonesia” kuliah tamu ini memberikan wawasan komprehensif mengenai profesi insinyur serta peran teknologi kimia hijau di tengah urgensi keberlanjutan.

Kuliah tamu pada hari itu, sebelumnya diawali dengan penjajakan kerjasama antara Program Studi Teknik Kimia UNPAR dengan BKK PII agar ada keterlibatan BKK PII terhadap pendidikan Teknik Kimia, khususnya di UNPAR agar dapat menghasilkan insinyur-insinyur profesional Teknik Kimia yang mampu berkontribusi bagi kemajuan dan kemandirian bangsa di kemudian hari. Untuk menutup hal tersebut, kuliah tamu ini dilaksanakan agar dapat memaparkan visi misi tersebut ke mahasiswa Teknik Kimia UNPAR yang masih aktif berkuliah dan menuntut ilmu sebelum akhirnya lulus dan aktif di dunia industri Indonesia dan global.

Pengantar PII dan BKK PII: Fondasi Profesi Insinyur di Indonesia

Sesi dibuka oleh Bu Sripeni dengan pengenalan mengenai Persatuan Insinyur Indonesia (PII), yaitu suatu organisasi profesi yang memiliki peran penting dalam pembinaan, sertifikasi, dan pengembangan kompetensi insinyur di Indonesia. Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa PII beroperasi berdasarkan UU No. 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran dan PP No. 25 Tahun 2019, dua landasan hukum yang mengatur praktik keinsinyuran, kode etik, hingga standardisasi kompetensi insinyur profesional. Menariknya, Dr. Sripeni juga menekankan bahwa PII didirikan pada 23 Mei 1952 di Bandung, sehingga kuliah tamu ini terasa semakin bermakna karena berlangsung di kota kelahiran organisasi profesi insinyur terbesar di Indonesia tersebut.

Dalam lingkup kimia, BKK PII sendiri berpegang pada tiga tata nilai utama, yaitu:

  1. Competence, yaitu menjaga etika dan meningkatkan kompetensi teknis insinyur.
  2. Collaboration, yaitu membangun kerja sama yang saling menguntungkan dan mendorong pertumbuhan kolektif.
  3. Care, yaitu menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.

Nilai-nilai ini menjadi fondasi kuat dalam pengembangan profesi insinyur yang tidak hanya berorientasi teknis, tetapi juga sosial dan etis.

UU No. 11 Tahun 2014: Urgensi Sertifikasi dan Profesionalisme Insinyur

Para mahasiswa mendapatkan penjelasan mengenai pentingnya sertifikasi insinyur profesional sebagai standar kompetensi yang diakui secara nasional maupun internasional. Dr. Sripeni menjelaskan bahwa UU Keinsinyuran bertujuan memastikan bahwa praktik keinsinyuran dilakukan oleh individu yang kompeten, beretika, dan bertanggung jawab
terhadap dampak sosial maupun lingkungan. Materi ini membuka mata mahasiswa bahwa profesi insinyur tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga memikul tanggung jawab profesional untuk melawan malpraktik dan menjaga keselamatan publik.

Membedah Masa Depan Industri Kimia Hijau Indonesia

Memasuki inti acara, pembahasan mengenai industri kimia hijau menarik perhatian mahasiswa. Para narasumber memaparkan bagaimana tren global menuju dekarbonisasi, sirkularitas material, energi bersih, dan bio-based chemicals tengah membuka peluang besar bagi lulusan Teknik Kimia Indonesia. Perkembangan teknologi seperti carbon capture,
biorefinery, green hydrogen, dan sustainable process engineering dibahas sebagai arah masa depan industri. Pak Arief Koeswanto memberikan contoh perkembangan industri bioetanol di Indonesia sebagai bahan campuran alternatif bahan bakar bensin yang mulai akan diaplikasikan di Indonesia dalam waktu dekat sebagai arah industri hijau dan komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dari sumber-sumber energi tidak terbarukan. Suasana kelas yang awalnya cukup serius perlahan berubah menjadi lebih interaktif seiring tumbuhnya rasa penasaran para peserta. Mahasiswa mulai aktif mengajukan pertanyaan mengenai tantangan industri, peluang karier, hingga kesiapan Indonesia dalam mengadopsi teknologi hijau.