Begini Kegiatan Pelatihan Petani Garam di Kabupaten Kupang

POS KUPANG.COM, KUPANG

Dr. Judy Retti Witono sedang memberikan pemaparan materi kepada para petani garam

Salah satu sumber daya alam di NTT yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan adalah garam laut. Iklim dan karakteristik air laut disana sangat mendukung untuk produksi garam berkualitas tinggi.

Namun, karena metodologi yang digunakan untuk menghasilkan garam dari air laut masih sederhana, kualitas dan produktivitas garam dari daerah ini relatif masih cukup rendah.

Proses yang digunakan kurang efisien dan konsumsi energinya juga cukup tinggi. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan teknologi tepat guna, yang dapat meningkatkan kualitas, produktivitas, dan efisiensi produksi garam. Diharapkan hal ini dalam jangka panjang juga dapat meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan petani garam di NTT.

Masalah yang teridentifikasi di desa O’Lio, Kabupaten Kupang adalah teknologi yang digunakan untuk membangun kolam penguapan belum cukup baik sehingga kontaminasi pada produk garam masih cukup tinggi.

Untuk memurnikan produk garam, petani garam mencoba untuk melarutkan garam kembali, menyaring larutan garam dan kemudian menguapkan kembali air untuk menghasilkan garam bersih. Prosedur ini membutuhkan kerja keras dan juga menghabiskan banyak energi.

Melalui pelatihan untuk petani garam di Desa Olio pada tanggal 25 Januari 2019, Dr. Judy Retti Witono beserta tim dari Pusat Studi Rekayasa Proses dan Produk Pangan serta Pusat Studi Teknologi Air dan Pengolahan Limbah, Universitas Katolik Parahyangan Bandung memperkenalkan teknologi yang telah mereka kembangkan untuk meningkatkan kualitas garam yaitu dengan menggunakan metode hidroekstraksi yang mudah dioperasikan dan hemat energi.

Untuk jangka panjang, Dr. Judy dan tim merencanakan untuk memperkenalkan teknologi tentang cara membangun kolam penguapan yang dapat meminimalkan kontaminasi produk garam. Teknologi tepat guna ini dikembangkan bekerja sama dengan Pusat Teknologi Air dan Air Limbah (CTWW) dari Universitas Teknologi Sydney (UTS), Australia.

Kegiatan pelatihan ini mendapatkan dukungan dari ketua RW desa O’lio dan Kepala Lurah Merdeka, serta mendapatkan dukungan pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Katolik Parahyangan (LPPM-UNPAR) dan Pemerintah Australia melalui Skema Hibah Alumni (AGS), yang dikelola oleh Australia Awards Indonesia.

Berita diambil tanpa diubah dari publikasi Pos-Kupang.com, Senin 28 Januari 2019. Link: http://kupang.tribunnews.com/2019/01/28/begini-kegiatan-pelatihan-petani-garam-di-kabupaten-kupang

Dr. Herry Santoso sedang menjelaskan alat pemurnian hidroekstraksi kepada para peserta pelatihan
Salah seorang peserta menyampaikan kesan atas acara pelatihan tersebut
Para peserta pelatihan dan tim foto bersama