Webinar Series 2: Say Yes to Electric Vehicles!

Menyadari bahwa Indonesia mulai memasuki era teknologi berbasis listrik, Jurusan Teknik Kimia, Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) mengadakan webinar dengan tema serupa berjudul “Say Yes to Electric Vehicles” pada, Sabtu (15/10/2022). Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk memberikan wawasan dan perhatian lebih mengenai pemanfaatan baterai pada kendaraan berbasis listrik dan green battery.

Chemical Engineer for Battery Industry

Sesi pertama acara ini menhadirkan Arenst Andreas Arie, S.T., S.Si., M. Sc., Ph. D. yang merupakan Kepala Pusat Studi Pengembangan Produk dan Material Maju di UNPAR. Beliau memaparkan mengenai perkembangan penggunaan listrik pada kendaraan bermotor saat ini berupa Plug in Hybrid Electric Vehicles (PHEV) — kendaraan berbahan bakar bensin dan listrik — dan Battery Electric Vehicles (BEV) — kendaraan berbahan bakar listrik saja. Adapun, fokus masalah yang sedang dihadapi dari penggunaan BEV, yaitu belum bisa menyaingi mobil berbasis bensin (tingginya konsumsi listrik pada jarak tempuh yang rendah) dan harganya masih sangat mahal. 

Menurut American Chemical Society, teknik kimia, yaitu mengkonversi suatu material menjadi produk melalui proses kimia — termasuk mempelajari produk dan proses desain di dalamnya — terutama produksi dalam skala besar. Beliau menegaskan bahwa hal ini sangat cocok dengan battery concept yang memerlukan terobosan baru pada bidang Renewable Energy and Energy Storage Devices, terutama behaviour of battery system. Oleh karena itu, diperlukan peran seorang Teknik Kimia dalam mengembangkan dan menyelesaikan permasalahan dalam industri baterai. 

Chemical Engineer’s Contribution in Battery Industry

Dilanjutkan dengan sesi kedua diisi oleh Boas Tua Hotasi, S.T., M. Sc. yang merupakan alumni Teknik Kimia UNPAR Angkatan 2015 dan kini menjadi Research and Development (RnD) Engineer di Taiwan Lithium Battery Co., Ltd. Begitu banyak hal menarik yang dapat dikembangkan dari industri baterai. Misal, Tahukah kamu bahwa kepadatan baterai 40 kali lipat lebih rendah daripada bensin? Hal ini berakibat pada borosnya penggunaan baterai hingga jarak tempuh yang jauh lebih pendek dibandingkan jika menggunakan kendaraan berbahan bakar bensin. Selain itu, baterai membutuhkan waktu pengisian yang 300 kali lebih lama dibandingkan bensin. 

Beliau menguraikan luasnya peran seorang lulusan teknik kimia dalam industri baterai. Seorang lulusan teknik kimia dapat terjun langsung dalam perkembangan industri baterai, mulai dari penelitian mengenai formula baterai atau biasa disebut RnD laboratories, material manufacturers (ukuran partikel, rasio, dan katoda anoda yang digunakan), battery manufacturers (merakit baterai dalam skala cells), electronic component manufacturers (battery thermal management system atau perpindahan panas serta daya hantar listrik), hingga end-users and integrators (memastikan baterai aman hingga konsumen). 

Sebagai penutup, Dr. Arenst berpesan untuk selalu belajar konsep bukan menghapal dan diakhiri dengan mengaplikasikan konsep tersebut. Selain itu, Boas untuk terus mengimplementasikan mindset of engineering serta memperkaya kemampuan saat sudah lulus sekalipun. Webinar Series 2 ini ditutup dan diharapkan dapat menjadi awal berkembangnya ketertarikan mengenai battery industry bagi para peserta. (Has, ed.: Kev.)

X