Seminar Nasional Teknik Kimia UNPAR 2017: “Teknologi Proses dan Produk Berbasis Sumber Daya Alam Indonesia”

Pada 4 Mei 2017, Jurusan Teknik Kimia UNPAR melaksanakan Seminar Nasional Teknik Kimia UNPAR (SNTKU) ke-13. SNTKU merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Prodi S1 dan S2 Teknik Kimia UNPAR setiap tahunnya. Acara seminar kali ini mengangkat tema “Teknologi Proses dan Produk Berbasis Sumber Daya Alam Indonesia”. Sejalan dengan visi UNPAR, tema ini diambil atas kesadaran akan kekayaan alam Indonesia yang memiliki potensi besar untuk diangkat ke tataran yang lebih tinggi lagi. Acara diawali dengan sambutan yang disampaikan oleh Herry Santoso, S.T., M.T.M., Ph.D. (ketua SNTKU), Ratna Frida Susanti, Ph.D. (ketua Prodi Teknik Kimia), Dr. Thedy Yogasara, S.T., M.Eng.Sc. (Dekan FTI), dan dibuka oleh Dr. Ir. Budi H Bisowarno, M.Eng. (Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian dan Kerja sama). Acara dilanjutkan dengan paparan yang disampaikan oleh 3 keynote speakers, yaitu Prof. Dr. Ir. Agus Heri Purnomo, M.Sc. (Peneliti Utama di Kementrian Kelautan dan Perikanan), Dr. Christianto Wibowo (Clear Water Bay Technology Inc.- USA), dan Harjanto K Halim, M.Sc. (Direktur Utama PT Marimas Putra Kencana).

Prof. Agus dalam paparannya yang berjudul “Pemanfaatan Sumber Daya Hayati Laut Non Konvensional”, menyampaikan adanya kesalahpahaman terhadap sumber daya alam kelautan hanya sebatas pada ikan yang dikonsumsi, tetapi jauh lebih banyak dari itu terdapat kekayaan alam laut yang belum dieksplorasi dan dieksploitasi (non konvensional). Berbagai produk non konvensional yang dapat dikembangkan seperti produk turunan dari rumput laut dan mikro alga, bahan bioaktif, neutraceutical, dan enzim dari mikroba laut, dsb. Potensi tersebut jika diolah dengan baik diperkirakan dapat menyumbang pendapatan negara puluhan triliun rupiah per tahunnya. Menyoroti tantangan ke depannya, Prof Agus menyampaikan diperlukan perubahan kebiasaan mengekspor bahan baku (bahan mentah) ke luar negeri dan mengimpor produk olahannya. Selain itu dibutuhkan investasi yang besar dalam pengembangan teknologi, serta adanya urgensi membangun jejaring yang kuat antara universitas, pemerintah, dan industri dalam rangka mempersiapkan teknologi yang tepat, dari skala lab sampai produk jadi siap jual.

Sesi dilanjutkan dengan pemaparan yang disampaikan oleh Bpk Harjanto mengenai “Tantangan Industri Pangan di Era Digital”. Bpk Harjanto menyampaikan beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam industri pangan, khususnya pengembangan suatu produk, seperti preferensi konsumen, kapan produk tersebut dikonsumsi, branding produk, selain nilai tambah dari produk. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah melihat demografi Indonesia, yaitu kelas menengah meningkat dan 80 juta penduduk Indonesia merupakan anak muda (generasi milenial) sehingga sangat menentukan produk pangan apa yang dikonsumsi. Berbagai perubahan tersebut memunculkan berbagai perubahan seperti, produk pangan yang dipasarkan secara on-line, munculnya berbagai produk yang out of the box, dsb. Oleh karena itu, kualitas, konten, dan inovasi produk yang baik tidaklah cukup, tetapi perlu metode pemasaran yang berbeda. Beberapa yang dicontohkan seperti, pendekatan kepada food blogger, komunitas tertentu, video blogger, dsb. Hal ini tentu menentukan strategi pemasaran dan pendekatan yang berbeda kepada konsumen, sehingga produk yang dijual dapat bersaing dengan kompetitif di era digital ini.

Sesi pleno terakhir disampaikan oleh Dr. Christianto Wibowo dengan tema “Sinergi antara Teknologi Proses dan Produk”. Dr. Chris menyampaikan perbedaan antara produk kimia dasar dan lanjut, serta bagaimana strategi dalam pengembangan proses dan produknya. Produk lanjut di antaranya seperti produk molekuler, fungsional, formulasi, dan piranti (device). Dibutuhkan teknik pemprosesan lanjut, misalnya coating, agregasi, etching, yang tentunya berbeda dengan teknik pemprosesan konvensional. Selain teknik pemprosesan, penting juga diketahui mengenai bahan baku dan kondisi operasi yang digunakan. Pengembangan produknya pun tidaklah mudah, karena memerlukan berbagai tahap iterasi (percobaan secara sistematis), sehingga formulasi produk dapat menghasilkan karakteristik produk yang diinginkan. Dr. Chris menyampaikan beberapa contoh seperti pembuatan krim tabir surya dengan ekstrak tanaman dan nanopartikel ZnO, produk koyo yang mengandung obat herbal. Menutup paparannya, Dr. Chris menyampaikan bahwa teknologi produk tidak dapat berjalan sendiri, karena membutuhkan teknologi proses untuk mewujudkan produk, oleh karena itu keduanya saling bersinergi, seraya menekankan potensi alam Indonesia yang sangat besar untuk dapat dikembangkan menjadi produk kimia lanjut.

Hadir pula 2 invited speaker, Ir. Supomo, M.Sc. (Kepala Balai Besar Keramik, Kementrian Perindustrian Badan Penelitian dan Pengembangan Industri) dan Ir. Lies A. Wisojodharmo (Kepala Program Rekayasa Nanomaterial Polimer Alam, Pusat Teknologi Material BPPT), selain pemakalah dari berbagai universitas atau pun badan penelitian. Semoga ide-ide dan jejaring yang diperoleh dalam SNTKU 2017 ini dapat menjadi awal yang baik bagi pengembangan sumber daya alam Indonesia ke depannya.

Salah seorang peserta seminar menyampaikan pertanyaan pada sesi plenary.
X