Profil Alumni: Caroline Silka Wibowo

Caroline Silka Salim (TK 1993)

Berawal dari “ketidaksukaan” terhadap pelajaran Kimia pada saat SMA, Caroline Silka Wibowo menjatuhkan pilihannya untuk menempuh studi S1 di Teknik Kimia UNPAR. Berbekal pendidikan di Bidang Teknik Kimia, Caroline Silka Wibowo memulai kariernya di ARCO Oil&Gas Company Jakarta. Alumni TK UNPAR angkatan 1993 ini berkesempatan membagian pengalamannya tersebut.

1. Apakah alasan ibu saat itu studi di TK UNPAR? Apakah terbayang pendidikan teknik kimia seperti apa?

Sebelum menjawab pertanyaan ini mungkin perlu saya share sedikit latar belakangnya mengapa saya memilih jurusan Teknik Kimia. Saya ini dulu waktu di SMA justru lemah di pelajaran Kimia, padahal saya waktu itu di A1, dan selama setengah tahun pertama, nilai ulangan Kimia saya selalu jelek. Rasanya Kimia itu kayak pelajaran ngak jelas dan mengawang-awang saja. Lalu, saya berusaha untuk cari les private pelajaran Kimia. Belakangan saya baru tahu kalau ada salah satu saudara sepupu saya, Andreas Purnomo (Ko Andre) yang “sangat” jagoan Kimia, dan dia lulusan dari Sekolah Tinggi Analis Kimia di Bogor dan waktu itu telah bekerja di salah perusahaan cat terkenal di Bogor. Demi mengejar nilai Kimia saya  yang jeblok sekali dan berusaha belajar mengerti apa itu Kimia, saya meminta Bapak saya (Andreas Santoso Wibowo, saat ini sudah almarhum) untuk mengantar saya ke rumah Ko Andre di Joglo, Jakarta dari rumah kami di Tambun, Bekasi, setiap akhir minggu, supaya saya bisa mengerjakan PR-PR dan persiapan ulangan Kimia di sekolah nanti. Puji Tuhan, Ko Andre itu sangat pintar mengajarkan dasar-dasar Kimia sehingga membuka mata saya, bahwa pelajaran Kimia itu tidak lah sesulit yang saya bayangkan, tapi ternyata mudah sekali. Sejak “kursus” dgn Ko Andre, nilai Kimia saya melonjak naik drastis dan pernah mencapai nilai sempurna, sampai-sampai Guru Kimia kami saat itu bingung karena saya disangka menyontek di dalam kelas, tapi saya terkenal dengan anak yang “bersih” tidak pernah nyontek dan Guru Kimia percaya bahwa saya akhirnya jadi “jagoan” Kimia. Hal ini berlangsung terus sampai akhirnya saya mau lulus SMA dan mulai mencari Jurusan yang cocok untuk kuliah nanti.

Entah kenapa, hanya ada satu pikiran di kepala saya saat itu, yaitu Jurusan Teknik Kimia, karena saya makin mencintai apa itu Kimia dan kepengen sekali mendalami Kimia lebih jauh. Waktu itu saya mulai mendaftar ke beberapa Universitas Swasta termasuk Sekolah Tinggi Analis Kimia di Bogor, tempat Ko Andre kuliah dulu. Ternyata test masuk ke Sekolah Tinggi Analis Kimia Bogor sangat sulit, benar-benar sulit dan tidak punya harapan lolos test masuknya. Saya sudah down, dan Bapak saya waktu itu menganjurkan untuk masuk Kedokteran atau Accounting saja di Atmajaya, Jakarta. Jadi saya mendaftar di Atmajaya untuk kedua Jurusan tersebut dan saya lolos test masuk Atmajaya dan bisa memilih Kedokteran atau Accounting. Tapi hati saya tidak sreg untuk masuk Kedokteran. Lalu saya cari-cari Universitas mana yang punya Jurusan Teknik Kimia dan pada saat itu lah saya menemukan bahwa Universitas Katolik Parahyangan punya Fakultas baru, FTI dimana didalamnya terdapat Jurusan Teknik Kimia. Saya langsung mendaftar ke Unpar untuk Jurusan Teknik Kimia tersebut. Puji Tuhan, akhirnya saya lolos test masuk dan bisa menjadi salah satu mahasiswa Jurusan Teknik Kimia di Unpar, Bandung. Salah satu hal paling membanggakan saya dan keluarga pada saat itu. Saking gembira dan semangatnya, ketika pendaftaran ulang mahasiswa baru, saya datang pagi-pagi sekali ke GSG Unpar, hanya ditemani sepupu saya yang lain – yang kebetulan dia mahasiswi Psikologi Maranatha, Bandung – dan ketika mendapatkan nomer induk mahasiswa, ternyata saya nomer satu di angkatan 1994, jadilah 629401 itu menjadi angka kenangan saya selama saya kuliah di Unpar dan masih menjadi nomer favorite saya sampai sekarang.

Pengalaman belajar Teknik Kimia waktu itu sebetulnya agak berbeda dengan apa yang sempat dibayangkan ketika masih SMA dulu. Semester 1 & 2 masih lancar karena masih banyak MKDU yang memang dasar dan cukup mudah diikuti, ketika mulai masuk Semester 3 dan seterusnya, terkadang terlintas dalam pikiran, “apakah saya memilih jurusan ini dengan benar?” kok jadi sulit sekali dan rasanya tidak sanggup untuk melanjutkannya, apalagi ditambah dengan pelajaran Fisika dan Termodinamika, yang banyak sekali rumus-rumus dan turunannya yang sangat tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Mungkin saat itu tidak hanya saya yang berpikir demikian, dalam beberapa obrolan bersama teman-teman sekelas, banyak juga kelakar “kayaknya kita salah jurusan nih ya? masih keburu ngak ya pindah ke jurusan lain yang gampangan”, dll.

Namun, saya orang yang tidak mudah menyerah, memang saya akui, ternyata sungguh sulit dan tidak seperti yang pernah dibayangkan. Saya bersama beberapa teman dekat membentuk kelompok belajar dan kami membuat jadwal belajar kelompok bersama dan saya merasa sangat terbantu dengan adanya kelompok belajar ini. Dan kelompok belajar yang ada waktu itu, tidak hanya satu kelompok tapi beberapa kelompok, dan kita boleh bergantian atau tukaran gabung dengan kelompok yang mana saja, jadi tidak dibatas-batasi  untuk orang-orang tertentu. Terkadang juga, ada beberapa senior angkatan ’93 yang mau memberikan kursus “gratis” dan kami mencoba memanfaatkan kesempatan-kesempatan tersebut sebaik-baiknya. Rasa persaudaraan dan kekeluargaan sangat kental di antara kita dan senior ’93, berhubung waktu itu hanya ada dua angkatan saja di Jurusan Teknik Kimia Unpar. Hal ini membuat saya tidak putus harapan.

2. Setelah lulus apa yang Ibu lakukan? Apakah studi lanjut atau langsung kerja?

Saya akhirnya lulus dan wisuda pada bulan Desember 1998, sementara hampir semua teman seangkatan saya bisa wisuda di bulan Mei 1998. Ada jeda 1 semester tambahan yang terpaksa saya harus ulang karena satu dan lain hal. Tapi saya bersyukur karena semua ini boleh terjadi karena kehendak Tuhan dan karena saya ada “extra” 1 semester di Unpar, saya boleh mendapatkan pengalaman-pengalaman hidup yang kemudian kelak menjadi dasar kuat buat saya untuk melangkah ke jenjang karir berikutnya.

Selama masa 1 semester tambahan itu, tentunya saya menambah jadwal belajar kelompok dan

karena tidak ada lagi SKS yang perlu saya kejar, jadi saya banyak waktu luang. Selama waktu luang tersebut saya manfaatkan untuk mencari pekerjaan sampingan untuk sekedar mendapatkan uang saku tambahan untuk hidup sebagai anak kost di Bandung ini. Awalnya saya mencoba untuk jadi Guru Les Private yang mana profesi ini banyak “digemari”oleh temen-temen kuliah lain sebagai salah satu sumber penghasilan tambahan. Tapi kayaknya saya ngak punya hati untuk menjadi Guru Les Private, bukan karena tidak mau berbagi ilmu dengan adik-adik SMP/SMA, tapi memang tidak ada bakat jadi Guru Les, terus terang. Dan akhirnya saya berkonsultansi dengan Pak Suharto, saat itu Dekan di Fakultas Teknologi Industri dan juga merupakan Dosen Pembimbing saya. Saya bilang ke pak Harto, “Pak, bapak bisa bantu saya cari pekerjaan sambilan, pak? Daripada waktu saya banyak terbuang dan sekaligus saya mau meringankan beban biaya Bapak saya, karena diluar dugaan saya terpaksa ngulang satu semester”. Dan pak Harto dengan bijaksananya memberi saya semangat dan jalan keluar. Kebetulan beliau sedang menyusun buku pertama mengenai Pengolahan Tempe dan Pengemasan Tempe dalam kaleng, dan beliau membutuhkan tukang ketik dan editor. Saya menyanggupi untuk “bekerja” dengan pak Harto menyelesaikan ketikan buku dan menjadi editornya dengan upah bekerja Rp 350.000/bulan. Luarbiasa, saya sangat terharu, ini gaji pertama saya dan jumlah segitu sudah besar saat itu buat saya, bisa membiayai bayar kost 1 bulan, ditambah masih bisa beli makan dengan cukup sebulan. Puji Tuhan. Mulai saat itu sampai akhirnya saya diwisuda di bulan Desember 1998 saya bekerja di kantor TU FTI menjadi tukang ketik pak Harto. Memang buku itu belum selesai saya ketik ketika saya diwisuda, dan mungkin dilanjutkan oleh pak Harto sendiri atau orang lain, saya kurang update tentang itu setelah saya lulus.

Sebetulnya sewaktu bulan Mei 1998 ketika saya gagal untuk wisuda di saat itu, Bapak saya sudah mulai mengirimkan beberapa surat lamaran ke beberapa perusahaan di Jakarta, dengan menggunakan nilai rata-rata IPK terakhir, tanpa Ijazah kelulusan. Ternyata beberapa Perusahaan mau menerima surat  lamaran tanpa Ijazah kelulusan dan beberapa di antaranya memanggil saya untuk interview di Jakarta. Salah satu interview yang saya lakukan adalah dengan ARCO (Atlantic Richfield Company) di Jakarta, yang waktu merupakan salah satu perusahaan Minyak dan Gas milik Amerika Serikat yang cukup terkenal di Indonesia. Dan Puji Tuhan, ternyata saya lolos interview dan beberapa test lainnya di ARCO dan pada bulan November 1998 (satu bulan sebelum saya wisuda), saya sudah mendapatkan surat penawaran kerja dari ARCO dan sepakat akan mulai bekerja bulan Januari 1999, setelah saya diwisuda di bulan Desember 1998.

Saya bersyukur karena saya boleh langsung bekerja setelah selesai diwisuda dan lesson learned dari peristiwa ini kalau saya boleh sampaikan ke adik-adik mahasiswa/i, bahwa jangan menunda mengirimkan surat lamaran kerja tersebut, walaupun kalian belum mendapatkan Ijazah kelulusan atau IPK terakhir. Tidak ada salahnya mulai mengirimkan lamaran sebelum wisuda dengan menggunakan IPK rata-rata terakhir. Yang penting juga, kalian harus jujur dengan Perusahaan yang kalian lamar, kalau memang belum lulus/wisuda, beritahu kepada HRD atau Manager yang meng-interview kalian, sehingga mereka punya pertimbangan atas lamaran kalian. Kontranya adalah tidak semua perusahaan mau menerima pegawai baru tanpa ijazah kelulusan. Jadi tergantung dari jenis perusahaan atau jenis pekerjaan yang akan kalian lamar.

Saya memilih untuk langsung bekerja dibandingkan studi lanjut, dengan pertimbangan bahwa keluarga saya memerlukan saya untuk mulai bekerja dan mencari uang untuk menambah dan membantu keekonomiaan keluarga dan sekaligus meringankan/menghilangkan beban orang tua saya untuk biaya studi lanjutan. Saat itu saya punya satu adik yang masih SMA dan sudah siap masuk kuliah juga, sehingga keuangan keluarga akan sepenuhnya difokuskan untuk kepentingan adik masuk kuliah di Jakarta. Jadi, saya memang tidak punya option untuk melanjutkan studi ke S2 saat itu.

3. Bagaimanakah perjalanan karier Ibu sehinggan sampai pada posisi sekarang?

Begitu saya selesai wisuda, saya resmi bekerja sebagai Reservoir Engineer di ARCO di Jakarta. Menjadi seorang Reservoir Engineer bukan hal mudah, apalagi ilmunya sangat jauh berbeda dari apa yang dipelajari selama kuliah 4.5 tahun di Teknik Kimia. Beruntung, karena ARCO mempunyai module-module Training yang sangat bagus, library mereka sangat terbuka untuk siapa saja yang mau belajar, baik secara online maupun hardcopy. Dan Manager saya saat  itu juga sangat mengerti bahwa saya sebetulnya tidak tahu apa-apa mengenai Reservoir dan ilmu perminyakan, tapi menurut Manager saya, itu bukan halangan untuk seseorang memulai belajar hal yang baru, apalagi sebetulnya posisi “Engineer” itu dasarnya sama dan bila dasar “Engineer”nya kuat, beliau bilang kita bisa belajar ilmu-ilmu lain di luar dari apa yang kita terima selama kuliah.

Satu tahun saya mencoba mendalami ilmu Reservoir dan mulai bisa melakukan sedikit-sedikit tugas utama sebagai seorang Reservoir Engineer, tapi keliatannya saya kalah “bersaing” dengan para “real” Reservoir Engineer untuk hal performance sebagai seorang Reservoir Engineer. Manager saya melihat kesulitan saya, sehingga saya dipindah ke bagian lain yaitu Subsurface Engineering. Ternyata bagian Subsurface Engineering ini mirip sekali dengan ilmu Termodinamika, dimana Engineer-nya harus bisa menghitung input-output dan volume besarnya sebuah tangki atau vessel. Dan semua rumus-rumus Termodinamika yang selama kuliah harus dihapalin luar kepala, ternyata di dunia kerja nyata, semua rumus sudah otomatis masuk dalam satu software, sehingga cuma perlu input data-data yang kita punya, dan otomatis software ini bisa melakukan simulasi dengan kombinasi apapun. Luarbiasa! Hal ini baru pertama saya sadari dari pertama saya lulus kuliah, ternyata implementasi dari rumus-rumus tersebut tidak sesulit apa yang dipelajari waktu kuliah.

Ketika saya sedang enjoy-enjoynya kerja untuk Subsurface, sayangnya saya tidak bisa lama bekerja di Department Subsurface Engineering ini akibat adanya proses akuisisi perusahaan ARCO dengan BP (British Petroleum) tahun 2000 yang menyebabkan perubahan organisasi besar-besaran di ARCO. Dan saya termasuk salah satu yang terpaksa terkena lay-off dan sempat tidak bekerja lagi selama 2 bulan.

Saya dan teman-teman kantor ARCO sudah lama mendengar adanya rencana akuisisi ini, sehingga sebetulnya sudah banyak di antara kami yang mulai mengirimkan surat lamaran ke Perusahaan-Perusahaan lain untuk antisipasi kalau ternyata terkena lay-off/PHK.  Saya juga melakukan hal yang sama, dan sudah mengirimkan lamaran ke Unocal, Perusahaan Minyak dan Gas yang lain di Jakarta dari setahun sebelum terjadinya lay-off ini. Bila saya boleh share juga pengalaman iman saya ketika mengalami lay-off di ARCO ini. Waktu mendengar bahwa saya terkena lay-off dan harus segera keluar dari ARCO/BP dalam jangka waktu satu bulan, saya langsung menghubungi Perusahaan-perusahaan yang sudah saya kirimi lamaran, untuk follow up. Selama masa itu juga, saya mendaraskan Novena 3x Salam Maria selama 9 hari berturut-turut, dan mukjizat terjadi pada hari ke-9, bahwa dua dari Perusahaan yang saya targetkan, Unocal dan Astra, langsung memanggil saya untuk interview. Dan herannya, kedua Perusahaan tersebut memanggil interview saya pada hari dan jam yang sama persis. Dalam situasi tersebut, yang saya coba pahami adalah Tuhan itu Maha Pemurah dan penuh kasih kepada umatNya. Bayangkan saja, dari yang saya kena lay-off dan tidak punya pekerjaan, ternyata Tuhan kasih kelimpahan dan banyak pilihan lain yang bagus di depan mata saya. Kenapa kedua Perusahaan ini harus memanggil saya pada hari dan jam yang sama? Bukan kah itu suatu kelimpahan dari Tuhan. Sambil terus bersyukur dalam hati, saya tambahkan doa supaya saya boleh memilih satu yang terbaik dari dua pilihan ini. Herannya, Astra maupun Unocal tidak ada yang  mau memberikan alternative hari interview lain, menurut mereka bila saya gagal datang pada hari yang ditentukan, lamaran saya langsung di-drop dan hangus. Akhirnya, saya memilih untuk pergi ke Unocal, karena mengingat pengalaman saya selama 2 tahun terakhir adalah bekerja di Perusahaan Minyak dan Gas juga. Jadi setidaknya saya sudah punya sedikit latar belakang dan pengetahuan mengenai apa itu Operasi Minyak dan Gas di Indonesia.

Singkat cerita, Puji Tuhan, saya bisa lolos interview dan semua test yang dipersyaratkan oleh Unocal waktu itu dan saya diterima sebagai Contract Officer, di Department Supply Chain Management (SCM) di Balikpapan, Kaltim. Namun karena proses HRD yang cukup panjang, menyebabkan saya harus “nganggur” selama 2 bulan menunggu semua surat menyurat dan persiapan keberangkatan saya ke Balikpapan selesai diproses.

Awalnya saya menerima posisi sebagai seorang Contract Officer ini hanya sebagai batu loncatan, karena saya pikir toh namanya juga lagi cari kerjaan, yang penting bisa bekerja dulu, nanti bisa sambil approach ke department Engineering untuk pindah posisi kalau sudah masuk Unocal di  Balikpapan. Namun, setelah 2-3 tahun bekerja sebagai Contract Officer ini saya mulai menyukai jenis pekerjaan ini. Ternyata menjadi Contract Officer tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, tadinya saya pikir kerjaan ini seperti administrasi dan tidak ada ilmunya. Ternyata menjadi seorang Contract Officer itu perlu ilmu Engineering juga, saya baru tahu belakangan kenapa waktu itu saya lolos interview di Unocal, karena ternyata SCM sedang mencari tambahan Contract Officer dengan latar belakang Engineer apa saja. Saat itu, Contract Officer kebanyakan berlatar belakang ilmu Hukum dan ilmu-ilmu terapan lain yang bukan Engineering, sehingga mereka sangat membutuhkan orang-orang dengan latar pendidikan Engineering.

Sekitar tahun 2005-2006, Unocal kemudian diakuisisi oleh Chevron, dan saya tetap melanjutkan profesi saya sebagai seorang Contract Officer bersama Chevron di Balikpapan. Sewaktu masa awal Chevron menggantikan organisasi Unocal, cukup significant perubahan-perubahannya, terutama dalam “roles and responsibility” serta “title naming”. Contract Officer diubah menjadi Procurement Specialist, kemudian diubah lagi menjadi Contract & Category Specialist. Terakhir sebelum saya meninggalkan Balikpapan, saya bekerja sebagai seorang Contract & Category Specialist sampai dengan akhir tahun 2012.

4. Apakah pekerjaan Ibu sekarang (posisi apa)? Di mana dan apa yang dilakukan?

Setelah 12 tahun bekerja di Balikpapan, saya mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan karir saya dengan pergi dinas ke Amerika Serikat, pada bulan Januari 2013. Puji Tuhan, Tuhan mengijinkan saya dan keluarga boleh mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Amerika Serikat untuk bekerja, hidup dan menyekolahkan anak-anak kami di negara adidaya ini. Kesempatan yang saya dapatkan ini bukan tanpa usaha kerja dan pengorbanan, tapi semuanya berkat doa tanpa putus dan perjuangan selama lima tahun bekerja dgn Chevron di Balikpapan, dan Management melihat bahwa hasil kerja saya selama lima tahun tersebut sangat memuaskan dan saya berhasil dinominasikan untuk boleh mendapat kesempatan dikirim ke luar negeri.

Saat ini, saya bekerja sebagai Contract Advisor di Chevron USA, Inc, di Houston, Texas, USA. Tugas seorang Contract Advisor sepertinya tak berbeda jauh dengan apa yang sudah saya lakukan sebagai Contract & Category Specialist waktu di Balikpapan. Hanya saja ada beberapa roles yang berubah atau ditambah dari yang sebelumnya.

Sekilas mengenai Roles & Responsibility (R&R) seorang Contract Advisor, secara garis besar adalah:

  • Mengembangkan dokumen kontrak bersama Pemilik Kontrak dari mulai pengembangan Ruang lingkup kerja, Kompensasi, termasuk lampiran-lampiran Kesehatan dan Keselamatan Kerja serta hal-hal teknis lainnya, dan memasukan dokumen teknis ke dalam Kontrak legal sampai Kontrak ditandatangani oleh kedua belah pihak
  • Melakukan negosiasi harga dan kompensasi dengan Supplier/Kontraktor/Vendor
  • Melakukan proses Lelang/proses kontrak/procurement
  • Memberikan solusi atas kasus klaim penagihan atas kontrak
  • Melakukan administrasi perubahan atau perpanjangan kontrak
  • Melakukan koordinasi dengan semua pihak terkait (Subject Matter Expert/SME) untuk hal-hal seperti HES, Insurance, Compliance, Financial compliance, dll

5. Apakah ada ilmu/ kuliah yg terpakai pada saat kerja sekarang ini?

Menurut saya, tetap ada ilmu Teknik Kimia yang dipakai sampai saat ini. Bekerja sebagai seorang Contract Advisor tidak hanya melulu masalah legal issues, tapi juga perlu mengerti spesifikasi barang, spesifikasi bahan kimia yang dipakai ketika pengeboran, atau jenis-jenis material yang cocok digunakan ketika operasi minyak atau gas, dan lain-lain. Hal-hal ini banyak kita jumpai dalam mata kuliah Perencanaan Pabrik, hanya saja, saya tidak secara langsung bekerja di Perusahaan Kimia sebagaimana dulu pernah saya harapkan.

Satu hal lagi yang menurut saya sangat menunjang perjalanan karir saya sampai saat ini adalah ilmu “berorganisasi”, yang mungkin tidak ada sekolahnya, tapi by experience, you’ll get it. Istilahnya, dengan pengalaman menjalani hidup berorganisasi, maka anda akan mengerti apa itu berorganisasi.

Selama saya kuliah di Unpar, saya berusaha membagi waktu saya untuk berorganisasi di beberapa perkumpulan Mahasiswa dan beberapa kepanitiaan untuk kegiatan-kegiatan di Fakultas/Himpunan maupun sekala se-Kampus Unpar. Kegiatan berorganisasi sangat penting selama kalian masih duduk di bangku kuliah. Di dalam berkegiatan di organisasi kemahasiswaan apapun, kalian bisa banyak belajar, untuk bertemu teman-teman baru, bertemu dengan karakter-karakter manusia yang berbeda, dan bagaimana kalian bisa mengatasi masalah bersama-sama dengan kepala yang berbeda-beda, dan bagaimana kalian akhirnya bisa memahami satu sama lain untuk mencapai tujuan yang sama.

Dengan berkegiatan di organisasi kemahasiswaan, kalian nantinya punya bekal untuk memulai masuk ke dunia kerja, yang mana dunia kerja akan jauh lebih berat dibanding dunia kampus. Namun, karena kalian sudah “terlatih” untuk bertemu dengan orang-orang baru dan bagaimana memahami orang-orang baru untuk satu tujuan yang sama, maka proses transisi dari seorang mahasiswa menjadi seorang pekerja menjadi lebih mudah. Saya perhatikan banyak Perusahaan mencari calon pekerja juga dengan menekankan nilai sosial dan seberapa banyak kita berkegiatan di organisasi kemahasiswaan. Mereka suka dengan orang yang sudah biasa berorganisasi, karena artinya kita sudah lebih mengerti, apa itu “team work”, apa itu “mencapai goal/tujuan yang sama untuk kepentingan bersama”, dll. Jadi, saran saya buat adik-adik mahasiswa/I, supaya kalian bisa membagi waktu kuliah kalian dengan kegiatan di luar perkuliahan. Ini merupakan nilai tambah bagi kalian sewaktu kalian mencari pekerjaan nantinya.

6. Motto/ quote Ibu sebagai penyemangat hidup?

Banyak sih sebetulnya quote atau motto yang bisa dijadikan semangat hidup. Salah satu yang paling penting menurut saya adalah: “Ora et Labora”. Jangan pernah tinggalkan hidup berdoa dan selalu berpasrah kepada kehendakNya adalah salah satu penyemangat hidup saya.

Bila kalian menemui satu jalan buntu, percayalah Tuhan sudah menyiapkan banyak jalan lain yang terbuka untuk kalian, yang terutama adalah sabar dan berpasrah, karena waktuNya Tuhan bukanlah waktu kita manusia, tapi kita manusia boleh terus berharap dengan penuh usaha dan ketekunan, niscaya Tuhan akan mendengarkan doa-doa dan permohonan kita.

7. Pesan-pesan Ibu untuk mahasiswa atau calon mahasiswa Teknik Kimia Unpar?

Well, mungkin tidak ada pesan-pesan secara khusus, karena dalam sharing saya di atas, saya yakin sudah ada beberapa hal yang bisa adik-adik mahasiswa/i ambil untuk dijadikan pembelajaran untuk hidup ke depannya.

Nama Lengkap Carolline Silka Wibowo
Pendidikan
S1 Teknik Kimia UNPAR
Sertifikasi PTK-007 BPMIGAS Certification,
Supervisor Essentials Workshop – GWD,
Foreign Corrupt Practices Act (FCPA) and Related Anticorruption Laws,
Business Code & Ethic (BC&E) Certification,
Arizona State University (ASU) SCM Certification,
Procurement/SCM – Category Management Training,
Contracting Workshop
SCM Compliance,
Supply Market Analysis,
Fundamental PRC SCM,
PMA for PRC SCM: Contract Administration – 200 & 300
CSOC Standard Certification,
PMA for PRC SCM: Contract and Purchase Order Development – 200
PMA for PRC SCM: Contract and Purchase Order Development – 300
 
Riwayat Pekerjaan
1998-1999 Production Engineer di ARCO Oil & Gas Company Jakarta
1999-2000 Sub-surface Facility & Services Engineer di ARCO Oil & Gas Company Jakarta
2001-2002 Contract Officer di UNOCAL Indonesia Company Balikpapan
2002-2004 Supervisor Contracts for Drilling and Exploration & Development Dept di UNOCAL Indonesia Company Balikpapan
2005-2006 Procurement Specialist for Drilling Dept di di UNOCAL Indonesia Company Balikpapan
2006 Procurement Specialist for Major Capital Projects di Chevron Indonesia Company Balikpapan
2006-2007 Team Leader Capital Project Procurement di Chevron Indonesia Company Balikpapan
2008-2010 Category Specialist for Production Operation Category Management di Chevron Indonesia Company Balikpapan
2010-2013 Category Specialist for Contract & Category Management for Kalimantan Operations di Chevron Indonesia Company Balikpapan
2013-2014 Contract Advisor For P/SCM PRC di Chevron Houston Texas
2014- sekarang Contract Advisor For Congo River Crossing (CRX) Pipeline Project di Chevron Houston Texas

 

X