Masa Depan Lingkungan

oleh: Gai Suhardja (Founder FIPC – Forum Indonesia Peduli Citarum) dalam Pikiran Rakyat, 30 Agustus 2018

MASA depan Jawa Barat tentu diharapkan berhasil di bawah kepemimpinan baru. Sebagaimana diketahui, mantan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dalam waktu dekat akan dilantik menjadi Gubernur Jawa Barat, maka Kota Bandung Juara menjadi Jawa Barat Juara tentunya harapan kita semua.

KREATIVITAS di Kota Bandung tak pernah berhenti karena karya kaum muda, tetapi masalah sampah merupakan yang tak mudah dicarikan solusinya. Kini berbagai upaya pemerintah telah dicanangkan dengan prioritas solusi sampah, baik dengan bank sampah maupun cara lain seperti biogas, biokomposter, alat insinerator yang pernah ditolak, ataupun biodigester. Sampah hasil produk yang mengandung plastik kombinasi logam metal aluminium seperti saset kopi adalah masalah yang sulit ditangani dibandingkan dengan jenis lain. Kiranya hal ini perlu mendapat perhatian dari para perancang desain kemasan produk hingga industri pabrik pembuatnya. Kota-kota besar akan dilanda masalah pembuangan limbah seperti ini. Sebab sulit didaur ulang karena tak mudah memisahkannya. Lingkungan hidup menghadapi ancaman kerusakan di masa datang bila terus menerus memproduksinya.

Desain lingkungan menggabungkan pengetahuan geografi, arsitektur, perencanaan kota, estetika, sosiologi, studi budaya, sejarah, arkeologi, agama dan psikologi, serta disiplin lain. Urban desain pada lingkungan yang dikombinasikan dalam aspek sosial, ekonomi, budaya, dan estetika kota terintegrasi, infrastruktur, konstruksi merupakan refleksi komprehensif dari seni lingkungan alam untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Akan tetapi, juga mencerminkan perkembangan masyarakat dan harmoni alam untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan sebagai karya eksplorasi manusia terhadap lingkungan hidup perkotaan. Seni dan desain telah menjadi bagian penting integrasi lingkungan sosial yang berperan dalam tatanan kehidupan.

Peraturan Presiden No. 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, pada Bab II Bagian Kedua Pasal 3(3)e, pemrosesan akhir, tak dapat dilakukan terhadap jenis sampah saset karena menyatunya plastik dan aluminium. Akibatnya, menimbulkan masalah bertumpuknya sampah di pembuangan, sebab itu layaklah dikaji bagaimana solusi sebenarnya dapat dilakukan.

Perhatian

Lingkungan hidup di Jawa Barat sedang mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat yang mana Perpres 15 Tahun 2018 menjadi panduan. Dengan program Citarum Harum, sejak Februari 2018 hingga kini Kodam III/Siliwangi bergiat bersama elemen masyarakat dalam membersihkan Sungai Citarum dari limbah sampah dan limbah beracun yang lama dibiarkan masuk dalam aliran sungai dari limbah pabrik dan industri lainnya. Memang sudah ada tindakan aparat TNI dan kepolisisan untuk mengatasi, tetapi masih dilakukan optimalisasi demi masa depan Sungai Citarum bagi kehidupan masyarakat Jabar dan DKI.

Bila kita melihat jenis sampah yang seringkali menjadi masalah adalah sampah plastik yang diketahui memakan waktu amat panjang untuk dapat terurai dalam tanah (100 tahun atau lebih). Sementara itu, sampah organik yang dapat membusuk maupun limbah kotoran ternak dan tinja dapat secara alami hancur, tetapi juga mengandung problem gangguan kesehatan bagi kehidupan oleh karena bakteri E. coli yang berbahaya pula bagi kesehatan manusia.

Mengatasi kedua problem di atas terus dilakukan kajian dan eksplorasi di pemerintahan dalam hal ini KLHK maupun pihak swasta, di antaranya sampah yang disebut kemasan limbah yang mengandung metal aluminium dengan lapisan plastik seperti saset kopi. Limbah ini tak laku di kalangan penjual sampah karena selain hanya dapat jadi kerajinan daur ulang dan tak dapat dijadikan daur ulang proses industri. Oleh karenanya, perlu ada pihak yang dapat memberikan perhatian sepenuhnya terhadap masalah ini, apalagi akhir-akhir ini terjadi peningkatan komunitas peminum kopi dan dengan sendirinya menjadikan produksi saset sejenis kemasan seperti itu semakin banyak diproduksi oleh industri.

Kiranya patut diapresiasi adanya kerja sama antara Yayasan Solusi Bersinar Indonesia Divisi Bank Sampah Bersinar dengan Program Studi Teknik Kimia (Jenny Novianti) dari Fakultas Teknik Industri Universitas Katolik Parahyangan yang berkolaborasi dalam Pentahelix (artinya 5 unsur, akademisi; pengusaha; pemerintah; komunitas; media),  dalam hal ini bertujuan membuat kajian dan eksperimen menguraikan kedua unsur antara metal dan plastik agar dapat menjadi terpisah dan dapat menjadi raw material untuk daur ulang.

Upaya ini memerlukan dukungan sepenuhnya pihak pemerintah dan para pengusaha agar peran akademisi mendapatkan kesempatan dan apresiasi guna menjaga lingkungan hidup alam kita, baik dari sisi ekologis maupun sosial budaya. Karena kita ketahui bahwa pembiaran akan menambah kesulitan di masa yang akan datang jika tidak sejak saat ini dilakukan solusi dan inovasi penemuan pemecahan masalah yang terbaik bagi kemaslahatan dan manfaat kehidupan dan masa depan lingkungan. Agar ada antisipasi bagi kerusakan lingkungan dengan kesadaran para perancangan dan desainer kompeten disertai tanggung jawab yang tidak lagi membebani lingkungan oleh limbah yang tak mudah terurai dan membahayakan kesehatan makhluk hidup. Mereka seharusnya menciptakan desain produk yang mampu mendesain produk ramah lingkungan aman bagi kesehatan manusia generasi mendatang dan mendukung pengembangan kehidupan yang berkelanjutan menuju peradaban dunia yang semakin memelihara bumi kita bersama.

Semoga kolaborasi Bank Sampah Bersinar dan Prodi Teknik Kimia FT Industri Unpar dalam kajian eksperimen laboratorium penelitian terhadap sampah kemasan saset berkendala tersebut dapat segera menemukan solusi terbaik guna menyelamatkan lingkungan hidup tak hanya di Jawa Barat, bahkan berdampak positif secara nasional dan global.